Suami Bertengkar Dengan Keluarga, Pilih Suami atau Orang Tua??

PERMASALAHAN rumah tangga tidak hanya soal suami dan istri semata. Terkadang, masalah ini juga muncul dari samping keduannya, yaitu pihak mertua ataupun orang tua. Tak jarang perselisihan terjadi dia natara mereka, baik itu suami dengan orang tua istri, ataupun istri dengan orang tua suaminya.

Apalagi jika permasalahan rumah tangga tersebut membuat seorang istri dihadapkan pada dua opsi, memilih suami atau orang tua? Tentu maslaah tersebut harus disikapi dengan bijak dan tepat, sebab jika salah dikhawatirkan bisa menyakiti orang tua, suami bahkan Allah dan dirinya sendiri.


Bagaimana, jika konflik segitiga semacam itu terjadi?

Sebagai anak, tentunya menaati orang tua itu hukumnya wajib. Tapi, bagi seorang istri, menaati suami itu juga wajib.

Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Lukman ayat 14:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”( QS. Luqman : 14)

Sementara itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya aku boleh memerintah seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, pasti aku akan perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.”

Jadi, mana yang harus diutamakan, suami atau orang tua?

Nah, mengenai kepada siapa kita harus berpihak, maka berpihaklah pada yang benar. Jika suami yang benar dan orang tua salah, maka berpihak pada suami itu lebih baik. Namun, jika sebaliknya, maka berpihaklah pada orang tua. Intinya, berpihaklah pada kebenaran.

Selain itu, upayakanlah untuk mendamaikan keduanya semampunya. Sebab, mendamaikan orang yang berselisih apalagi itu adalah kerabat sendiri, merupakan amala ketaatan yang agung.

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS An Nissa: 114)

Maka, hendaklah kedua pihak yang berseteru itu pun mengembalikan semua permasalahannya kepada Allah dengan bertakwa, bermuamalah dengan persaudaraan yang berlandaskan Islam, dan memperhatikan hak kekerabatan anatara keduanya. Begitulah sifat muslim. Jangan mengikuti hawa nafsu dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari segala bisikan setan.

Insya Allah ketika, semuanya dikembalikan kepada Allah, maka Dia akan memberikan jalan keluar terkait permasalahan tersebut.

Adapun nasihat yang kami tujukan untuk kedua belah pihak: Wajib atas keduanya untuk bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta bergaul dengan ukhuwwah Islamiyyah, hak kekerabatan dan keterikatan di antara kedua pihak.

Hendaknya mereka melupakan pertengkaran di antara mereka dan masing-masing pihak bersikap toleran kepada pihak lainnya; karena memang demikianlah keadaan kaum muslimin. Janganlah mereka berjalan beriringan dengan hawa nafsu atau bersama setan, dan hendaknya mereka memohon perlindungan kepada Allah dari hasudan dan godaan setan.

Jawaban Syaikh Shalih al-Fauzan, al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan